follow me Kakaa

Kamis, 22 Maret 2012

SLANKy pesantren


 Aku tidak tau apa yang membuat cewek aneh satu ini bener-bener gila mati sama band yang vokalisnya jarang pakai baju dan jarang pula mengikat rambutnya yang panjang kalo lagi konser. Tapi ya itulah Rasti, Rasti Pramesthi Negara. Namanya sih cukup unik pakai kata-kata ‘Negara’, katanya sih ini salah satu bentuk apresiasi patriotisme orang tuanya sama negara tercinta kita ini. Hmmm….
Kita emang santri di suatu pesantren di sebuah kota kecil di Jawa tengah, kota yang lumayan ‘makmur’ kalau menurutku. Kota yang orang-orang baru paham jika kita bilang –Pemalang Pak, itu loh kota antara Tegal dan Pekalongan- baru deh orang yang bertanya mungkin sedikit paham. Tapi kalo sekarang sih mungkin agak cukup dikenal. Karena salah satu teroris yang pernah buat Bali jadi heboh yaitu D*lm*tin yang juga alumnus SMA-ku adalah orang Pemalang. Hahahaha….#kurang keren apa coba?.
Oke! Kembali ke teman sekamarku yang emang autis level kronis ini. Kalau Ustadzah Rina masuk kamar kita untuk nge-cek pasti dia cuap-cuap, secara Rasti yang kurang kerjaan.
“Ya Alloh…Rastiii…kamu apa kurang kerjaan? Ndak sopan kamar santri koq ya kamu tempel-tempeli temboknya pake poster ndak jelas begitu?!” kalau sudah begini Ustadzah pasti udah ikutan galau kaya aku.
“Lho..ustadzah kan sudah saya kasih tau, itu namanya SLANK..band super yang melegenda,hehehe..” selalu itu jawaban Rasti,
Ustadzah hanya mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah Rasti.
“Ras…kamu mbok ya bener sedikit sih, masa sampai gilanya kamar kita ini jadi korban?” tukasku,
“ini sebagai salah satu bentuk rasa kekagumanku pada Kaka dkk…terutama Aa’ Abdee Negara, hehehe” Rasti selalu tersipu-sipu tidak jelas setiap menyebut gitaris SLANK yang nama belakangnya sama dengan dia. Abdee Negara.
“makan tuh Abdee…” kelakarku sembari menyambar handuk dan bergegas pergi meninggalkan Rasti yang cengar-cengir sambil mengusap-ngusap poster SLANK kebanggannya itu.
“dasar Ares syirik…!!!” serunya tanpa mengalihkan pandangannya dari tembok yang disulap menjadi wajah-wajah personil SLANK yang biasa aja kataku.


Kita adalah siswi kelas XII jurusan ilmu alam disalah satu SMA favorit di Pemalang, kita juga sekelas dan sebangku lagi. Tak heran bosen rasanya tiap hari lagi-lagi Cuma Rasti. Sehari-hari ya inilah kegiatan kita.
Jam 7 pagi sampai jam 2 untuk kita-kita yang pelajar ya kegiatan di sekolah. Selanjutnya kegiatan di pesantren dari ba’da ashar. Jadi ada waktu dari jam 2 sampai jam 3 kita bisa istirahat.
Bel pulang berbunyi. Siswa-siswi bergegas meninggalkan ‘rumah’ belajarnya.
Aku dan Rasti langsung ngacir ke tempat parkir. Rasti memang anak seorang anggota DPRD di Pemalang dan anak satu-satunya pula. Aku sempat heran kenapa ayahnya mau menitipkannya di pesantren, Rasti pernah bilang kalau alasan ayahnya adalah biar dia jadi alim dan gak begajulan sebagai cewek. Rasti segera menuntun motornya keluar parkir. Di pesantren Cuma dia yang membawa kendaraan bermotor, padahal sih jarak pesantren ke SMA kita Cuma lima menit. Sebenernya ada larangan bawa kendaraan bermotor tapi cerdiknya dia, dia malah menitipkan motornya di warung makan belakang pondok.
“Res…anterin aku yah..” kata Rasti sembari menyerahkan helm ke tanganku.
“kemana? Jangan aneh-aneh kamu, nanti kita kena hukum Ustadz Ali gara-gara pulang telat,” tukasku.
“yowes…tenang ajalah, orang aku ya Cuma mau beli majalah kok…”
Kita berdua-pun akhirnya tancap gas muter-muter kota kecil Pemalang sebelum akhirnya mendarat di depan subuah agen majalah. Bayi pake tanktop juga bakal tau kalo ini anak bakal ngacak-ngacak majalah yang didalemnya ada SLANK pasti di sambernya.
“Om, majalah SLANKnya dong satu, oya ada majalah apa gitu yang ada SLANKnya gitu, ada Om?” tanya Resti pada Om-om penjualnya.
“oh…ini ada Mb, pas banget tinggal satu. Mb SLANKy ya?”
“hehehe…udah keliatan dari mukanya ya Om?” jawabku ikut nimbrung,
“pastinya dong Res…” lanjut Rasti,
“gak juga kok Mbak..Mbak kan bawaannya kayak santri tapi kok bisa nge-fans sama band begitu?” jawab Om-nya asal,
Dalam hati aku tertawa mendengar statement om penjual majalah.
“yee…emang dilarang sama Alloh SWT dan Nabi Muhammad kalo aku nge-fans sama SLANK? Mereka kan juga ciptaan Alloh om, yang ndak boleh kalau aku nyembah-nyembah gitu minta duit ke mereka, hhuu” sembur Rasti.
“ya ndak sih Mbak..hehehe”
“yaudah semua berapa Om?”
“24ribu Mbak”
Rasti mengambil uang lembaran duapuluh ribuan dan selembar lima ribuan.


Hari telah larut. Hari ini cukup melelahkan. Aku membaringkan tubuhku di kasur. Si Rasti kemana?.
Aku menghampiri tempat tidur Rasti. Sebuah buku bersampul serba SLANK tergeletak dengan indah di atas kasur. Aku mebolak-balikkan lembar demi lembar. Foto-foto, semua info, cover album-album SLANK dengan rapinya menghiasi lembaran buku yang lumayan tebal itu.

Yang menarik perhatianku di dalam buku itu adalah sebuah gambar berbentuk hati bertuliskan “ I luph U fulllll ABDEE NEGARA” dan dibawahnya sebuah biodata singkat tentang Abdee,


ABDEE

Abdee Negara atau populer dengan Abdee Slank, lahir di Donggala, Sulawesi Tengah 28 Juni 1968. Ia adalah seorang gitaris, vokal pendukung, penulis lagu bagi grup musik Slank.
Sementara Slank sendiri adalah grup musik yang selalu eksis menelurkan album-albumnya sejak 1983. Grup ini semula merupakan grup musik yang terdiri dari anak-anak SMA Perguruan Cikini, Jakarta, yang terdiri Bimo Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal).
Sayang grup ini tidak bisa bertahan dengan formasinya, sehingga berturut-turut terjadi perombakan personil sampai akhirnya terbentuk formasi yang ke-14 pada 1996 dan bertahan sampai sekarang.
Pada formasi terbentuk terdiri, Kaka masuk sebagai vokalis, dengan personel lain terdiri dari Bimbim (drum), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar).

…
Nama lengkap : Abdee negara
Nama panggilan : Abdee
Tempat tanggal lahir : Donggala, 28 Juni 1968
Agama : Islam
Tinggi/Berat badan : 170 cm / 50 kg
Hobi : Motor Cross
Influense : Keith Richard, Jimmy Hendrix
Instrumen : Guitars


Dan bukan Cuma gitaris pujaannya itu, biodata semua personel tersusun rapi di bukunya. Ada lagi artikel yang mengulas tentang semua album-album grup band SLANK dari album pertamanya di tahun 1990 yaitu ‘Sui-Suit hehe’ bahkan aku aja belum muncul, Ini nama album kok aneh begini?? Dalam bahasa jawanya wagu. Banyak juga albumnya, dan yang terakhir rilis adalah ‘Jurus Tandur’ yang kependekan dari Maju terus pantang mundur. Sampe-sampe aku hafal ini lagu karena tiap hari nyaring terdengar di kupingku.
Pernah suatu hari di pengajian, Ustadzah menjelaskan makna dari sebuah suroh di dalam Al-quran. Rasti ketiduran di dalam masjid. Ustadzah Aisyah tau dan menyuruhku membangunkan Rasti.
“apaan sih Res? Kamu ndak tau aku lagi mimpi ketemu SLANK apa?” Rasti seperti tidak sadar kalo dia ada di dalam masjid mendengarkan pengajian Ustadzah Aisyah.
“Rasti? Ketiduran lagi kamu?”
“eeh…afwan Ustadzah…hehehe” jawab Rasti tanpa dosa.
Seluruh santri tentu saja memalingkan wajahnya pada Rasti. Aku hanya menunduk melihat ulah sahabatku.
“ketemu sama SLANK?”
“ndak Ustadzah, Cuma ngimpi..” jawabnya tanpa dosa.
“mau jadi apa kamu nduk, seharusnya kita meneladani sikap dan tingkah kanjeng Nabi, kamu malah mengidolakan band itu,”
“tenang aja Ustadzah, di hati saya tetap Alloh nomer satu, Nabi Muhammad juga suri teladan buat saya dan orang tua yang saya hormati tapi sama SLANK ini saya kagum Ustadzah sebagai rasa kekaguman saya sesama manusia ciptaan Alloh,”
“wes lah..kamu pancen pinter ngeles,” Ustadzah nyerah,


“Door…!!!” Rasti muncul tiba-tiba dan mengagetkanku.
“hih!! Pancen bocah sedeng!!”
“hmmm….buka-buka buku aku ati-ati, ntar ikutan nge-fans lho…hahahaha”
“emoh aku kalo harus nge-fans sama Aa’ Abdeemu itu Ras!”
“kualat kowe Res,” Rasti menerima bukunya dari tanganku dan membanting tubuhnya ke kasur.
“gak!” jawabku singkat.
Mataku serasa bohlam 5watt, rasa kantuk menyerang. Dimensi mimpi kembali menjemputku.


Aku sedang sendiri di kelas, pasalnya Rasti dan teman-teman yang lainnya pergi ke kantin. Sebenernya aku ditawarin buat bareng Cuma males aja.
Aku menyambar henfon Rasti yang emang sengaja dia tinggalkan di kelas, katanya kali aja aku kangen dia, mainan aja pakai henfonnya. Narsis gila itu anak.
Aku membuka MP-3nya yang sudah pasti lagu-lagunya BAND SUPER DUPER KEREN menurutnya. Apanya??? –batinku-. Jari-jariku berhenti di salah satu daftar lagu yang berjudul “anyer 10 maret”, hmmm…lumayan penasaran aku dekatkan speaker henfon. Kenapa ada lagu SLANK yang soswiiit gini. Aku pikir SLANK Cuma bikin lagu yang rame-rame gitu tapi ternyata di samping itu semua, SLANK bisa romantis juga.
“hayoooo…huhhh, dengerin lagu-laguku juga? Doyan emangnya?” sergah Rasti yang datang tak dijemput pulang tak diantar.
“ndak…iseng aja Res,” aku berusaha menyembunyikan perasaanku sendiri yang bilang kalau itu lagu beneran bagus banget. Tapi gengsi dong.
“Ares…ares, mukamu merah gitu, bohong yaa…” Rasti menangkap gelagat salting dari ekspresi wajahku.
Ingin rasanya aku menutup seluruh wajahku ini dengan jilbab putihku.
Aku yang selalu mencibir Rasti tentang SLANK kebanggaannya itu kini berbalik suka sama salah satu lagunya?.
“tenang aja…Res, oya di Pekalongan sebulan lagi ada konsernya Aa Abdee lho..”
“terus?” jawabku cuek,
“ya ampun Res, kamu kayak ndak tau maksudku aja..hmm…” Rasti mengerlingkan matanya padaku. Aku menanngkap maksud dari ekspresi mukanya.
“mau nonton? Aduh..wes lah ndak usah macem-macem kamu, cari penyakit aja,” nasehatku padanya,
“yaaahhh…ini impianku Res, kapan lagi bisa liat SLANK secara live..hahaha..”
“walaah..kamu yo ndak bakalan ketemu dan salaman juga kan, Cuma liat dari jauh, itu kalo beruntung kamu gak di injek-injek sama orang.”
“Arees…kamu koq malah nyiutin nyaliku toh ya? Hhuh!” Rasti bersungut-sungut dan sibuk dengan hapenya.
Rasti paling gak bisa marah lama-lama dari aku. Paling 5 menit lagi juga dia bakal ngajak aku ngobrol lagi.


“huh…capek aku,” keluh Rasti.
“kenapa?” aku melipat rapi mukenaku yang baru saja aku pakai sholat isya berjamaah di masjid tadi.
“abis kalau Ustadz Ali yang jadi Imam pasti lama, baca surohnya yang panjang-panjang.” Sungut Rasti.
“niatmu ndak karena Allah kalau begitu.”
“enak aja kamu, oya aku dapet artikel baru lho..”
“tentang SLANK?” tebakku.
“apalagi? Nih, kamu liat deh.”
“biasa aja..” namun mataku tertuju pada salah satu gambar personel band yang tidak terlalu kusukai itu. Keyboardisnya.
“ini siapa Ras?”
“dia itu Ridho, keyboardisnya SLANK.”
- Mohammad Ridwan Hafiedz- batinku. Namanya saja keren.
Gak. Masa iya aku kesengsem sama sapa? Ridho?. Ini pasti aku kena syndrome gila kaya Rasti. Wah udah gak bener ini otak.
Malam kembali hadir memberi nuansa yang berbeda. Bintang-bintang yang bertaburan di langit bagai kilau yang indah diatas kanvas hitam. Indahnya ciptaan Alloh.
Aku perlahan memejamkan mata.


Konser itu ramai sekali. Pantas SLANK banyak penggemar fanatiknya, mereka walaupun terkesan slengean tapi tetap punya aura dan kharisma tersendiri dimata para fans.
Aku seperti melupakan Rasti yang kutinggalkan saat kita terpisah tadi. Dan tak kusangka, personel SLANK hanya beberapa meter saja dari tempatku berdiri di backstage.
Ridho...ya itu Ridho. Ingin rasanya aku memeluk lalu meminta foto dan tanda tangannya.
“Kak,” panggilku.
“Hey..” sahut Ridho. Ridho benar-benar menoleh padaku. Subhanalloh...
Binar bahagia seketika aku rasakan. Ridho menjawab sapaanku.
“Kak Ridho...”
Namun seperti ada yang menarikku dari belakang.
“Ares! Bangun!!”
“Kak Ridhooo,” aku semakin berteriak.
“BANGUUUUUUUUUUN!”
Glekk!!
Itu hanya mimpi. Rasti tertawa puas sembari memegangi perutnya melihatku. –awas kamu Ras!-
“mimpiin SLANK? Makanya jangan suka ngenyek!”
-biarlah ini mimpi sesaat tapi suatu saat aku pasti bisa bertemu Kak Ridho dan SLANK- batinku.



TAMAT....


Hadiah terakhir

Mentari kembali bertengger dengan gagah di ufuk timur. Siluet pita jingga terlukis abstrak membentang di langit, menambah hangatnya pagi. Sinar mentari menerobos paksa di jendela kamar Ares, membiaskan cahaya warna-warni nan indah. Tapi tidak bagi Ares.
Tubuhnya lemas. Ia tak bisa lagi mengucek-ngucek matanya untuk bisa melihat cahaya pagi. Ares hanya bisa meraba-raba meja disamping tempat tidurnya untuk membantunya berdiri.
Hal yang selalu ia sesalkan setiap pagi, kenapa dia harus hidup kalau tidak berguna seperti ini, hidup hanya dalam kegelapan bak terjebak di dalam labirin yang panjang tak berujung tanpa cahaya. Hal yang selalu ia tanyakan kepada Tuhan, kenapa Tuhan terlampau adil memberikan cobaan seperti ini padanya.
Ares membuka knok pintu kamarnya. Diraihnya tongkat yang terlipat di atas meja lalu ditegakkannya.
Tok…tok…tok…bunyi tongkat terasa mengiris-iris  ulu hatinya. Nyeri.
Tujuh bulan sudah Ares membiasakan diri dengan kepahitan hidupnya menjadi orang buta. Bukan!. Itu terlalu kasar untuk Ares. Dia hanya tidak bisa melihat, melihat dunianya yang dulu penuh warna. Bahkan dia sudah tak ingat lagi bagaimana wujud warna biru, warna favoritnya.
Kecelakaan yang mengubah hidupnya itu terlintas kembali, merasuki otak Ares. Menjalar bagai racun yang ingin segera dimuntahkannya.
“Ares? Sudah bangun kamu?” sapa Ibunya lembut.
Suara piring ditata diatas meja makan. Hanya itu yang didengarnya sehingga ia tahu persis ibunya sedang menyiapkan sarapan.
“iya Bu..” balas Ares parau.
“sini duduk, kita sarapan bareng,” lanjut ayahnya.
Ares mendekati meja makan.
Bukkk!!
“aduh..” jerit Ares tiba-tiba. Ia tak sengaja menabrak meja.
“gimana sih Res? Makanya kalau jalan itu lih..” sergah Angga, namun secepat kilat ibunya menepuk pundak Angga.
“Angga..! tidak sopan kamu begitu pada adikmu!” seru ayah.
 Mendengar kejadian itu Ares segera membalikkan badannya. Berjalan tertatih dengan tongkatnya yang setia di genggaman jari-jari mungilnya. Ares merasa menjadi orang yang tidak berguna.
“Angga minta maaf Yah,” Angga lalu meraih penampan berisi sepiring nasi goreng dan susu coklat kesukaan Ares.
“biar Angga yang kekamar Ares Bu,”


“hey…” sapa Angga. Ares tahu Mas Angganya itu tidak bermaksud sedikitpun kasar padanya. Mas Angga adalah sosok kakak yang Ares sayangi.
“Mas Angga?, aku cuma lagi pengen sendiri Mas.” Kata Ares.
Angga meletakkan penampan di meja. Dia duduk disamping Ares meraih pundaknya dan merangkul Ares.
“Mas tahu betul gimana perasaan kamu Res. Tapi sampai kapan kamu terus sesali nasib seperti ini?”
“Aku sudah kehilangan harapan Mas. Aku ngrasa jadi boneka hidup yang gak bisa ngapa-ngapain Mas. Kelulusan yang seharusnya aku banggakan itu percuma. Aku gak bisa malanjutkan kuliah di universitas favorit kayak Mas Angga dan bisa punya cita-cita.” Ares tertunduk lesu.
“seburuk apapun sesuatu yang menimpa kamu, separah apapun keadaan yang kamu sesali. Kamu tetep Arestya Paramitha. Harta Mas yang sangat berharga.”
Ares memeluk Angga kemudian. Air matanya pecah mengalir dipipinya.
“Aku sayang sama Mas Angga,” desah Ares sembari terisak.


“ngapain sih Mas ngajakin ke taman segala? Emang Mas Angga gak kuliah?” Ares turun dari mobil dibantu Angga.
Udara segar kota Bogor menyeruak begitu saja di hidung Ares. Lama juga dia tidak menikmati udara luar rumah.
“ini kan sabtu Res, Mas libur.” Angga memapah Ares. Mereka menuju bangku panjang kosong di dekat kolam yang cukup besar. Dulu tempat itu adalah tempat yang sering dikunjungi Ares dan teman-temannya semasa sekolah. Sekedar untuk membuang penat.
“nah…kamu duduk disini, jangan kemana-mana, Aku cari es krim dulu. Oke..”
“oke…jangan lama-lama Mas,”
Angga berlalu meninggalkan Ares, ia merogoh saku jeansnya untuk mengambil henfon.
Ares masih terpaku di tempatnya duduk. Sesekali kepalanya ia miringkan untuk memastikan suara yang ia dengar. Jeritan anak kecil atau obrolan orang-orang dewasa sesekali ia tangkap. Lumayan rame. Batinnya.
“ehm…cewek, gak takut nih di taman sendirian lagi,” sapa suara yang datang tiba-tiba.
“Mas Reno?!” Tebak Ares.
“yaaaahhhh…koq tau sih,” sergah Reno pura-pura kesal.
Reno adalah sahabat akrab Angga. Ares mengenalanya dua tahun belakangan ini. Reno sering berkunjung kerumahnya bahkan sesekali menginap dan tidur di kamar Angga. Gak heran kalau makhluk dua ini ngumpul pastilah Ares jadi bulan-bulanan keisengan mereka.
Pernah suatu hari saat Reno menginap di rumahnya. Orang tua Ares lagi di Jogja menengok neneknya disana. Tiba-tiba listrik mati. Ares yang saat itu di kamar bergegas lari keluar sambil memanggil-manggil Angga.
Namun Angga tak kunjung datang, Ares yang panik  menjerit.
“pocooooooong!!” dia mengarahkan senter kearah sosok itu.
Jeritan Ares disusul dengan gelak tawa sosok yang disangkanya pocong. Lampunya tiba-tiba menyala dan Angga keluar di tempat persembunyiannya sembari memegangi perutnya karena menertawakan kekonyolan Ares.
“Anggaaaaaa…..Renoooooooooo!!!!” seru Ares.
Semalaman itu Ares mengunci mulut pada Angga dan Reno karena ngambek.
“nglamun mulu! Ntar kesambet loh..” Reno membuyarkan lamunan Ares.
“hahaha…paling kalau adapun setannya kaya Mas Reno, suka usil. Aku tau nih, pasti Mas Angga yang nyuruh Mas dateng ya?”
“sok tau nih..hhuh,” Reno mengacak-acak rambut panjang gadis itu.
“hih..tuh kan! Rese nih, ngapain sih Mas mau nemenin cewek yang gak bisa lihat kaya aku? Emang Mas gak malu dilihatin orang?”
“loh emang kenapa mesti malu? Mas gak pernah minta makan sama mereka. Bahkan sama kamupun Mas gak malu, kamu suruh Mas buka bajupun Mas mau. Hahahaha.” Reno tertawa renyah disusul tawa Ares.
Selalu ada saja yang dibuat Reno untuk membuat gadis itu tertawa. Ares memang sudah lama mengagumi dan suka sama Reno. Tapi dia merasa tidak pantas mendapatkan hati cowok pujaan hatinya itu apalagi dengan keadaannya yang seperti ini.
“Mas minta maaf sama kamu,”
“kenapa Mas?”
“coba dulu kamu gak berusaha dateng ke kampus Mas. Pasti keadaannya gak seperti ini. Mas bego, Mas harusnya dateng ke pertandingan basket kamu, melihat kamu tertawa bahagia dengan trophi juara satu kamu waktui itu ketimbang rapat organisasi di kampus. Harusnya Mas gak egois Res,” Reno menundukkan wajahnya. Pandangannya nanar mengenang kejadiaan yang dirasa adalah kesalahannya.
Ares meraba wajah Reno. Meletakkan jari-jarinya di bibir Reno.
“Mas gak perlu ngulang kalimat itu. Slalu ngerasa salah dengan semua ini. Ini udah takdir Allah Mas.” Senyum tersungging di bibir Ares. Senyum yang begitu menohok dan menyakitkan buat Reno ketimbang rasa sakit dikepalanya yang dirasakan akhir-akhir ini.
Reno meraih tangan Ares dan menggenggamnya. Jari-jari keduanya berpaut. Lagi-lagi Ares tersenyum. Reno mengecup pelan dahi Ares.
Andai Mas tau Ares sayang sama Mas Reno. Mungkin kalau Allah mengijinkan, Ares bakal ngomong sama Mas Reno. Batin Ares.


“apa?! di rumah sakit Tante? Iya..baik Tante, Aku segera kesana.” Angga mematikan henfonnya. Dia meraih kunci mobil dan berlari menuruni tangga.
“mau kemana Ngga? malam-malam begini?” tanya ibunya yang sedang menonton tivi bersama ayahnya.
“Reno masuk rumah sakit Bu, Angga mau kesana. Tapi jangan bilang hal ini ke Ares.”
Angga berlari disepanjang koridor rumah sakit. Mencari kamar yang sebelumnya ia tanyakan pada suster penjaga.
“Tante? Om?”
“Angga..huhuhu..” mama Reno masih terisak.
“Om? Reno kenapa?” nada bicara Angga semakin khawatir.
“akhir-akhir ini dia sering mengeluh sakit yang teramat sangat di kepalanya. Menurut hasil pemeriksaan dokter. Reno…” papa Reno tak lagi melanjutkan kata-katanya. Ia melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang jatuh begitu saja.
“Reno kenapa Om?”
“Reno kena kanker otak stadium akhir. Sore tadi dia pingsan. Hidungnya mengeluarkan banyak darah. Bahkan dia muntah darah. Dan dokter memvonis umur Reno tinggal beberapa hari lagi,”
Ada perasaan sesak menyeruak didada Angga mendengar penuturan orang tua sahabatnya yang ia kenal semenjak ia kuliah. Anggapun segera masuk keruangan Reno dirawat. Reno terbaring lesu dan wajahnya pucat. Bahkan untuk bernafas pun ia di bantu dengan selang oksigen dan beberapa alat medis yang terpasang didadanya.
“Ren…bangun Loe!” Angga mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya. Ia tak kuasa membendung air matanya.
“Ngga…” desah Reno parau. Senyumnya kecut.
“Reno? Loe bangun Ren?”
“ja…ngan…bilang…apa..pun…pa….da…ares..” Reno kesulitan berbicara karena selang oksigen yang terpasang dimulutnya. Nafasnya tersengal tak lagi beraturan.
“iya…gue gak bakal ngomong ini ke dia,”
“gu…e…..sa…..yang..sss…sa..ma..ar..es Ngga,” ucap Reno lirih.
“iya gue tau, loe bangun dong. Loe mesti sehat, loe harus ngomong ke dia karena dia juga sayang ke loe.” Angga semakin terisak. Dari pintu terlihat orang tua Reno dan dokter.


“Mas Angga, kenapa Mas Reno gak dateng buat nemenin aku di operasiku?”
“bukan gitu Res, dia janji dia bakal dateng tapi setelah dia pulang dari acara keluarganya di Jakarta.”
Ares duduk dikursi roda. Beberapa menit lagi dia akan melaksanakan operasi donor kornea. Perasaannya tak dapat lagi ia deskripsikan. Ares teramat sangat bahagai karena sebentar lagi dia kembali melihat dunia. Melihat orang-orang yang ia sayangi. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan mengatakan perasaannya pada Reno.
Ares memasuki ruang operasi. Ayah dan ibunya harap-harap cemas. Berharap operasinya bisa berjalan lancar.


Ruang Ares dirawat dipenuhi keluarga Ares. Termasuk orang tua Reno.
Dokter membuka perlahan perban yang menutupi kedua mata Ares. Ares membuka matanya pelan. Perlahan cahaya memantulkan sinarnya ke mata Ares. Ares kini sudah bisa melihat.
Ia mematut dirinya di cermin yang dipegangnya. Meraba setiap lekuk wajahnya. Bayangan Reno seperti tiba-tiba hadir. Berkelebat di pikiran Ares.
“Mas Reno?”
Kata yang terucap pertama kali saat Ares bisa melihat dunianya kembali.
“Bu? Tante? Mas Reno dimana?”
“Res…kamu sabar ya, ada sesuatu yang Reno titikan pada Tante sebelum…” Tante Maya, mama Reno kembali menangis.
“sebelum apa Tante?” kata Ares, tatapan matanya memohon seolah meminta pengakuan dari Tante Maya.
“Ada apa ini? Kenapa semuanya diam? Mas Angga?? Mas Reno kenapa?” buliran air mata membasahi pipi Ares saat menerima kotak berwarna biru dari mamanya Reno.
Angga memeluk adiknya.
“Reno sudah gak bisa bareng-bareng kita lagi Res.”
“apa maksudnya Mas,”
“Reno sudah meninggal…”
Semua terdiam, hanya isak tangis yang terdengar mengisi ruangan rumah sakit itu.
“enggak!!!!.kalian semua bohong!!!” Ares turun dari ranjangnya. Langkahnya terhuyung. Ia berlari keluar pintu dengan membawa kotak dari Reno untukknya.


Ares mematut dirinya di cermin memastikan penampilannya hari ini adalah yang terbaik. Ia memakai gaun hitam pemberian Reno di dalam kotak yang dikirimkan bersama surat yang Reno tulis sehari sebelum kematiannya. Entah kenapa Reno memilih warna hitam untuknya. Apakah mungkin sebagai firasat?. Mata indah itu. Itu mata Mas Reno.
Ares membuka kembali kotak dari Reno. Diambilnya sepucuk surat Reno.





            Dear…Ares sayang,

Surat ini sengaja aku tulis barangkali vonis dokter itu bener-bener kejadian. Kemarin dokter bilang sama orang tuaku kalau umurku hanya tinggal beberapa hari saja. Kanker otak ini menggerogotiku setahun belakangan ini tanpa aku tau sebelumnya. Rasanya tidak sakit koq karena perasaan yang teramat sakit sesungguhnya aku rasakan justru saat kamu kehilangan senyum dan keceriaan kamu dan itu semua karena aku.

Beberapa hari lagi kamu ulang tahun, itu kenapa aku beli gaun itu untuk kamu. Untuk dinner kita pas malam ulang tahun kamu. Malam saat seharusnya aku ungkapkan perasaan cintaku ke kamu Res. Hmm…andai waktu bisa aku tawar walau hanya beberapa jam saja untuk aku bisa bilang cinta. Aku cinta kamu.

Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu walau di tempat lain. Kita akan bersatu. Tapi kamu tau Res? Walaupun aku akan pergi untuk selamanya. Aku akan pergi dengan tenang dan bahagia. Karena aku bisa mengubah dunia gelapmu Res.

Jangan pernah sesali apa yang telah terjadi. Allah maha adil. Aku rela menukar nyawaku jika memang bisa membuatmu tersenyum lagi sayang.

Sepenuh cinta…

Reno



Air mata Ares kembali meleleh. Ia melipat rapi surat itu. Bergegas ia keluar dan mendapati Angga yang siap mengantarnya ke makam Reno.
Aku janji Mas Reno. Aku akan tetap tersenyum demi kamu. Aku juga cinta sama kamu Mas.
Batin Ares.
Mobil mereka melaju pelan. Menyusuri jalanan yang tak terlalu ramai. Mega berarak malas menambah pesona siang itu. Siang kedua buat Ares.
Ia menggenggam erat kotak itu. Akan aku simpan baik-baik pemberian terakhirmu Mas Reno. Tentu saja mata yang indah ini, gaun darimu dan sepucuk surat terakhir.


@TiyasWidyastuti

Sabtu, 18 Februari 2012

ATM oh ATM

Hadddeh..gue gak tau apa yang ada di otak gue waktu itu. Gue rasa gue normal men! Normal banget. Sedikit bikin gaduh atau rame di kelas kan itu keren tapi kalo lo bikin ke-autisan di ATM cobaaak??!!

Pertama, waktu itu sih sore-sore dan gue bersyukur gue gak lagi pake seragam dan gak pake nametag. Bayangin lo kalo beneran pas itu gue pake nametag ada tulisan tempat gue kuliah dan nama keren gue. Oke balik lagi, jadi waktu itu gue mau ambil duit, iyalah-lo pikir ngapain gue ke ATM? Mau boker?! >.<

Nah..selese gue ambil duit, tadinya gue di dalem berdua ama temen gue. Gue juga heran tadinya kenapa dia hobi banget deket2 mesin ATM sampe2 kalo nganter gue hobinya ikut masuk ke dalem. Hahaha..masa lalu kali ya..tapi eh kita bukan pasangan lesbong yaa..

Lah selese ambil daun eh duit, si temen gue tuh keluar duluan dan gue kedua tapi gue gaak buru-buru keluar melainkan pura2 menjepitkan diri dipintu sambil teriak mesra “AW AW AW AW AW...” gitu deh, sialnya, gak tau sapa yang bego, si temen gue gak ngasih tau kalo disitu ada mas-mas ngantri yang ngliatin gue dari atas sampe bawah dengan tatapan aneh-gak banget-nista-kayak ee’ bakteri- merasa bersalah dan MALU BANGET *kali ini gue akuin kalo gue punya malu J*

Setelah itu gue keluar deh dengan gak-cool banget dan lari bareng temen gue yang ketawa sumpah puas banget dia. Gue sih asikk aja lah toh itu mas-mas gak kenal gue, #menghibur diri lalu mengubur diri

Nah itu tadi jilid pertama ke-gejean gue di ATM, ada lagi nih yang gak banget. Jadi ceritanya juga sama sih gue ke ATM mau ambil duit-heh We-anak kecil pake tengtop juga paham deh *kayaknya anak kecil bakal ngira kalo ATM tuh kandang gorila deh* ah tau dah.

Lah waktu itu gue bener-bener ngira itu ATM kosong. Gimana gak ngira itu kosong, orang ATMnya gak kebuka dan bener-bener gak kaliatan ada selembar manusia hidup di dalemnya. Dan konyolnya gue pake seragam item putih (red:seragam ee’ cicak). Gue dengan kerennya *ini emang gue beneran keren loh* nyanyi-nyanyi “lalalalalala” gak tau kenapa hasrat pengen nyanyi itu. Membukalah gue pintu ATM itu sambil spontan ngucap “WAH!”, dengan kagetnya ada makhluk di dalem yang syok juga dengan kedatangan gue. Pas itu gue langsung nutup pintu dan ngebonceng temen gue (makhluk yang sama kaya pas ATM jilid satu) langsung kabur ketawa sampe aura gue kemana2. Malu men! Untung itu mas2 gak bacanama gue deh, iyalah, nametagnya namanya kecil banget. Nah sejak kejadian konyol itu gue jadi mikir. Ini emang gue yang aneh apa emang orang keren itu gini yaaa ato ATMnya deh yang salah..ahhh..sebodo deh,,hahahhaha...kayaknya kapok gue ke ATM aneh itu, hohohoho

Jogja, 15 Februari 2012